Archive for Agustus 27th, 2008
Orang yang Selalu Memberi
Oleh Mashadi
Di ujung senja Kota Madinah begitu indah. Ufuk barat yang memerah. Menjelang tenggelamnya matahari. Dedaunan korma masih nampak. Udara mulai terasa dingin. Orang-orang lalu-lalang menikmati udara sore hari. Sebagiannya bersiap menuju tempat masjid. Di antaranya ada remaja yang sangat tampan. Dan, ia terlahir di kota itu, dan belajar serta menikmati ilmu, sampai menjelang dewasa.
Di halaman rumah yang rindang, bau bunga-bunga pohon yang wangi semerbak dari pangkalnya. Begitu. Lingkungan yang indah bagi mereka. Tak ada kegalauan. Tak ada kerisauan. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa ingat kepada Allah azza wa jalla. Di kota yang merupakan pertama kali Baginda Rasulullah hijrah, bersama para Sahabat, membangun bangunan da’wah, ketika periode ta’sis (awal da’wah) di mulai. Tak banyak yang ikut. Mereka lah yang menjadi cikal bakal lahirnya peradaban dunia. Sampai hari ini. Islam memancarkan cahaya ke seluruh pelosok dunia. Di kota ini pula lahir Zainal Abidin.
Zainal Abidin, tak lain adalah cucu Ali bin Thalib, yang kakeknya Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa salam. Ia mereguk ilmu dari kakek-kakeknya, dan ia tak pernah puas-puas dengan ilmu yang telah didapatinya. Cucu Ali ini benar-benar menjadi ‘zainal abidin’ (penghias para hamba). Ia menjadi orang yang paling banyak beribadah. Imam Malik pernah menyatakan, bahwa “Dia dinamakan Zainal Abidin, karena ibadahnya”. Ia menjadi tanda bagi umat manusia dalam hal ibadah yang menjadi tujuan orang-orang yang bertakwa.
Alangkah irinya kelak orang-orang di yaumul jaza’ (hari pembalasan).Kelezatan yang dirasakan Zainal Abidin dalam beribadah bermunajat kepada Allah Ta’ala, sampai mendorongnya untuk melakukan shalat sehari seamalam seribu raka’at. Sungguh luar biasa. Dan, hal itu terus dikerjakannya sampai wafatnya. Wahai kaum muslimin! Perhatikanlah apa yang dilakukan Zainal Abidin. Dan, tidak mungkin lagi, terjadi di era ini. Di mana manusia hanya disibukkan oleh urusan dunia. Cucu Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa salam memandang sangat jijik kehidupan dunia, seperti ia memandang seekor lalat.
Suatu ketika, Zainal Abidin pergi menunaikan ibadah haji. Ketika berihram dan untanya berdiri tegak, warna kulitnya berwarna kuning, badannya gemetar. “Mengapa engkau tak mengucapkan talbiyah?”, tanya orang-orang di sekelilingnya. “Aku takut, ketika mengucap labaik, dan Allah menjawab: “engkau tidak Aku sambut”, dan ketika itu, ia jatuh pingsan, serta Zainal Abidin jatuh dari untanya. Cucu Ali it terus menerus mengalami kondisi seperti itu, sampai selesai haji. Betapa lembutnya hati Zainal Abidin, dan merasakan ma’iyatullah (kebersamaan dengan Allah). Hati yang lembut karena ketaatan dan mujahadah kepada Allah. Zainal Abidin tak pernah meninggalkan shalat malam sekalipun. Baik ketika di rumah atau ketika ia bepergian.
Said Ibn Mussayyib memuji Zainal Abidin, menyatakan: “Aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih wara’selain dia!”, ujar Said. Seorang ulama lainnya, berujar: “Ali Zainal Abidin bin Husien, karena kekerabatannya dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa salam tidak pernah makan dengan uang lebih dari satu dirham”. Zainal Abidin sangat zuhud terhadap dunia.Ia menolak kehidupan dunia, dan selalu memperbaiki kehidupan akhiratnya. Suatu ketika, Mukhtar bin Abu Ubaid, memberinya uang sebanyak 100.000 dinar. Dia menolaknya. Tapi, dia takut, karena Mukhtar, sebagai pejabat yang terkenal bengis dan kejam.Ketika Mukhtar terbunuh, Zainal Abidin memberitahukan kepada Abdul Malik bin Marwan tentang uang itu. Abdul Malik mengutus utusan, dan menyuruh berkata kepada Zainal Abidin: “Wahai putra pamanku, ambillah uang itu. Aku telah merelakannya untukmu”. Zainal Abidin mengambil uang itu, lalu mendermakannya sampai habis.
Suatu hari, Zainal Abidin menjenguk Muhammad bin Usamah bin Ziad rahimahullah yang berbaring sakit. “Mengapa engkau menangis?, tanya Zainal. “Aku banyak mempunyai utang”, jawabnya. “Berapa banyak?”, tanya Zainal. Muhammad menjawab: “Tujuh belas ribu dinar”, jawabnya. Lalu, Zainal mengatakan:”Biarlah aku yang menanggungnya”. Begitulah kedermawanan Zainal Abidin.
Ketika ia hendak pergi haji, Sulaimah binti Husien memberikan bekal perjalanan, tapi malah uang yang ia terimanya sebanyak 100 dirham, dibagi-bagikan kepada orang fakir miskin. Banyak penduduk Madinah yang mendapatkan tunjangan. Tapi, tidak tahu darimana tunjangan itu asalnya. Mereka baru tahu, ketika Zainal Abidin wafat, dan tunjangan itu berhenti. “Kita tidak pernah kehilangan sedekah rahasia, sampai Zainal Abidin Ali wafat”, ungkap mereka.
Pribadi cucu Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa salam ini, betapa sangat santunnya, sampai suatu saat, ia menjamu para tamunya. Dan, seorang pelayan sedang membawa sate, pelayan itu jatuh, dan menimpa putranya, sampai putranya itu meninggal. Karena pelayan itu tergesa-gesa. Zainal Abidin tidak marah. “Engkau merdeka. Engkau melakukannya tidak sengaja”, tegasnya.
Bagaimanapun Zainal Abidin adalah pribadi yang sangat indah. Nasehatnya kepada penduduk Iraq: “Wahai penduduk Iraq, cintailah kami dengan cinta Islam. Jangan mencintai kami dengan cinta berhala. Cinta kalian tetap ada pada kami sampai menjadi suatu noda atas kami”.
Kegalauan yang sangat menyedihkan dan merusak di negeri 1001 malam, tak lain karena cinta kepada berhala, bukan cinta kepada Rabbnya. Mereka saling membunuh dan porak-poranda, karena mengasihi sesuatu yang tidak layak, dikasihi dan dicintai. Wallahu ‘alam.
Add comment Agustus 27, 2008
Agenda Selamatkan Indonesia (Bag.4)
Pertemuan antara para ekonom suruhan Jenderal Suharto dengan para CEO korporasi multinasional di Swiss, Nopember 1967, membahas satu agenda sangat penting: penjajahan ekonomi dan politik Indonesia oleh Barat (baca: Yahudi). Indonesia diwakili Mafia Berkeley generasi pertama, juga Hamengkubuwono IX dan Adam Malik. Sedangkan para pengusaha multinasional antara lain adalah David Rockefeller.
Dr. Brad Sampson, saat meraih PhD dari Northwestern University AS menyusuri pertemuan ini dengan promotornya, seorang Indonesianis kritis bernama Prof. Jeffrey Winters. John Pilger dalam bukunya “The New Rules of the World” mengutip hasil penelitian Sampson tersebut. Inilah sebagian kutipannya:
“Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’ (istilah pemerintah AS untuk Indonesia setelah Bung Karno jatuh dan digantikan oleh Soeharto), maka hasil tangkapannya itu dibagi-bagi. The Time Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Jenewa, Swiss, yang dalam waktu tiga hari membahas strategi perampokan kekayaan alam Indonesia.
Para pesertanya terdiri dari seluruh kapitalis yang paling berpengaruh di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel, ICI, Leman Brothers, Asian Development Bank, Chase Manhattan, dan sebagainya.”
Di seberang meja, duduk orang-orang Soeharto yang oleh Rockefeller dan pengusaha-pengusaha Yahudi lainnya disebut sebagai ‘ekonom-ekonom Indonesia yang korup’.
“Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal dengan sebutan ‘The Berkeley Mafia’ karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai pengemis yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikannya yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya. Tim Ekonomi Indonesia menawarkan: tenaga buruh yang banyak dan murah, cadangan dan sumber daya alam yang melimpah, dan pasar yang besar.”
“Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi sektor demi sektor.” Prof. Jeffrey Winters menyebutnya, “Ini dilakukan dengan cara yang amat spektakuler.”
Jeffrey Winters melanjutkan, “Mereka membaginya dalam lima seksi: pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar satunya, perbankan dan keuangan di kamar yang lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja lainnya, mengatakan, ‘Ini yang kami inginkan, itu yang kami inginkan, ini, ini, dan ini.’ Dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur hukum untuk berinvestasi. Tentunya produk hukum yang sangat menguntungkan mereka. Saya tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri.”
Freeport mendapatkan gunung tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger, pengusaha Yahudi AS, duduk dalam Dewan Komisaris). Sebuah konsorsium Eropa mendapatkan Nikel di Papua Barat. Raksasa Alcoa mendapat bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan Amerika, Jepang, dan Perancis berhak menebangi hutan-hutan tropis di Kalimantan, Sumatera, dan Papua Barat.
Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dengan terburu-buru disodorkan kepada Presiden Soeharto membuat perampokan negara yang direstui pemerintah itu bebas pajak untuk lima tahun lamanya (UU PMA Nomor 1/1967). Selama itu pula rakyat terus menerus dibohongi dengan idiom-idiom bagus tentang pembangunan, Pancasila, dan trickle down effect dan sebagainya namun pada kenyataannya terjadi pemiskinan rakyat banyak secara sistematis.
Elit kekuasaan menjadi satu kelas tersendiri yang hidup dalam kelimpahan dan kemewahan, hasil dari tetesan dollar yang berasal perampokan besar-besaran atas kekayaan alam bangsa ini. Mereka inilah cikal bakal kelas elit Indonesia yang terpusat pada Keluarga Cendana, yang sampai sekarang ini masih bisa menikmati kekayaannya dan bahkan di era reformasi saat ini tetap selamat, karena tokoh-tokoh muda yang mulai berkuasa di era reformasi ini ternyata sudi menjadi sahabat kroni-kroni Suharto tersebut ketimbang menyeret mereka ke muka pengadilan yang sesungguhnya.
Nyata tapi secara rahasia, kendali ekonomi Indonesia sesungguhnya telah pergi ke Inter Governmental Group on Indonesia (IGGI), yang anggota-anggota intinya adalah negara Amerika Serikat, Kanada, Eropa, Australia, serta World Bank dan IMF (International Monetery Fund). Lagi-lagi komplotan Zionis Internasional.
Siapa kira, hanya berselang 38 tahun setelah “perjanjian iblis” antara Mafia Berkeley-nya Orde Baru dengan dunia imperialisme Barat, di pertengahan tahun 2005 Indonesia telah mengalami kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Walau Menteri Sumber Daya minyak Purnomo Yusgiantoro berkilah jika kelangkaan minyak lebih disebabkan terhambatnya proses distribusi Pertamina, namun faktanya, di sejumlah SPBU di Jakarta awal Juli 2005 telah mengalami defisit stock premium.
Data dari beberapa sumber yang bisa dipercaya mengungkapkan jika cadangan potensial minyak bumi Indonesia saat ini telah jauh berkurang dan tinggal untuk beberapa tahun lagi. Cadangan minyak bumi Indonesia diperkirakan akan habis tahun 2015, cadangan gas bumi sampai 2035, dan cadangan batubara hanya sampai tahun 2055. Krisis energi pada gilirannya akan menjadi kudeta energi dan national krisis yang sesungguhnya, yang didahului oleh krisis keimanan, krisis nurani, dan krisis akidah, di mana yang haram dijadikan halal dengan berbagai istilah dan pembenaran sehingga seolah-olah boleh dalam kacamata syariat.
Namun nurani yang bersih akan tetap bisa memilah, mana yang halal dan mana yang sesungguhnya haram namun “dihalalkan”. Mana yang berjuang menghidupi Islam, dan mana yang menumpang hidup dari Islam (baca: menunggangi umat).(bersambung/rd)
Add comment Agustus 27, 2008