Archive for Agustus 26th, 2008
Agenda Selamatkan Indonesia (Bag.3)
Apa persoalan sangat besar yang dihadapi bangsa ini? Jawabannya adalah kemiskinan. Masalah ini diakibatkan oleh dua faktor utama yakni imperialisme negara-negara utara yang berjalan ratusan tahun hingga hari ini atas negeri kaya raya bernama Indonesia, dan kedua, tidak amanahnya (baca: pengkhianatan) yang dilakukan elit politik negeri ini sejak zaman kerajaan hingga zaman ustadz naik Bentley, padahal di tengah-tengah mereka terdapat lautan kemiskinan dan kesengsaraan.
Pengkhianatan elit politik di negeri ini disebabkan mereka tidak memiliki karakter. Jujur saja, para elit politik kita sejak zaman dulu hingga sekarang ini sangatlah pragmatis dan oportunistik, sehingga mereka selalu saja mendahulukan kepentingan keluarga, kelompok, dan golongannya ketimbang rakyat banyak. Dalam hal ini mungkin Presiden pertama RI Bung Karno merupakan perkecualian.
Ketika berbagai kerajaan masih bercokol di Nusantara, sistem feodalisme membuat rakyat banyak hidup dalam kebodohan dan kemiskinan dan sebaliknya, para bangsawan, termasuk raja serta keluarganya hidup dalam kelimpahan harta benda dan segala kenikmatan dunia.
Para penjajah dari negeri-negeri utara melihat bahwa kaum elit ini bisa diajak bersekutu untuk memerangi rakyat banyak. Para penjajah kemudian mempertahankan sistem ini dengan merangkul para bangsawan untuk dijadikan sekutu dan bersama-sama menghisap kekayaan negeri ini dengan menunggangi rakyat banyak. Hal tersebut dilakukan oleh Portugis, VOC, Belanda, Jepang, dan mulai tahun 1967—saat Jenderal Suharto berkuasa dengan mengkudeta Bung Karno—semua kekayaan alam Nusantara mulai dijual dengan harga sangat murah kepada jaringan korporasi multinasional Yahudi yang berpusat di Amerika dan Eropa. Washington sendiri menyebut jatuhnya kekuasaan Bung Karno sebagai “Hadiah besar dari Timur” dan dirayakan dalam acara pesta yang sangat meriah. Tangan CIA memang berlumuran darah dalam peristiwa ini.
Ironisnya, setelah 32 tahun berkuasa, setelah Jenderal Suharto lengser, warisan Jenderal Suharto ini terus dipelihara dalam era reformasi dan bahkan kini didukung partai-partai politik yang mengaku reformis padahal kenyataannya Suhartois. Silakan baca daftar partai politik apa saja yang mendukung pengelolaan Blok Cepu oleh Exxon Mobil, misalnya, atau partai politik mana saja yang mendukung dinaikkannya harga BBM negeri ini dengan harga BBM New York sesuai Konsensus Washington, atau partai politik mana saja yang membatalkan gugatan parlemen terhadap kasus BLBI yang telah merampok uang rakyat dalam jumlah yang sangat besar. Mereka semua Suhartois.
Bisa jadi, sebab itulah ketika Jenderal Suharto meninggal, ada sejumlah elit partai yang memohon-mohon agar bangsa ini memaafkan dosa-dosa Suharto, bahkan sampai menyambangi rumah SBY di Cikeas dan memasang iklan besar di suratkabar nasional segala.
Siapa pun yang sadar sejarah pasti tahu jika Orde Baru Suharto tumbuh di atas genangan darah jutaan rakyatnya sendiri yang dibantai pada pekan ketiga Oktober 1965 hingga bulan-bulan pertama tahun 1966, sebuah kejahatan yang melebihi kebiadaban rezim Polpot di Kamboja. Sarwo Edhie, mertua Presiden SBY yang di tahun 1965-1966 menjadi algojo-nya Suharto dengan bangga menyebut angka 3 juta rakyat Indonesia yang dibunuhnya (John Pilger: The New Rules of the World). Sejarah bangsa ini diam seribu bahasa atas tragedi besar tersebut.
Dan ingat, kekuasaan tiranik Orde Baru bisa langgeng selama 32 tahun dengan melakukan pembunuhan terhadap ribuan umat Islam di Aceh, Lampung, Priok, dan sebagainya. Umat Katolik pun mereka bantai dalam tragedi pekuburan Santa Cruz di Dili pada Nopember 1991.
Dari Berdikari ke Ketergantungan
Selama 32 tahun masa kekuasaannya dan diteruskan selama 10 tahun era reformasi, bangsa ini terus dibohongi oleh para elit negara tentang peristiwa 1965. Penafsiran tunggal atas tragedi di tahun itu adalah pemberontakan PKI atas NKRI yang Pancasilais. Padahal, sekarang ini dokumen-dokumen CIA telah banyak yang dideklasifikasikan dan mengakui jika tragedi 1965 itu merupakan hasil konspirasi CIA bersama segelintir orang-orang Indonesia yang masuk dalam kelompok Klandestin bernama Van Der Plas Connection yang tersebar di dalam tubuh AD, ada yang menyusup ke PKI, dan para ekonom didikan Universitas Berkeley AS atas arahan Guy Pauker, dari Rand Corporation dan juga tokoh CIA.
Tujuan sesungguhnya dari gerakan Van der Plas Connection adalah menjadikan bangsa kaya raya, sebuah negeri Muslim terbesar di dunia ini, sebagai sapi perahan kekuatan imperialisme Barat yang dikomandoi AS. Bung Karno merupakan penghalang besar bagi upaya jahat tersebut (ucapan Bung Karno yang terkenal: Go to Hell With Your Aids!”) sehingga harus disingkirkan. AS mempergunakan strategi memanfaatkan anak negeri ini yang bersedia diajak kerjasama untuk menjual bangsanya sendiri. AS membina segelintir elit Indonesia lewat dua bidang: militer dan teknokrat.
Para perwira yang kebanyakan dari AD diberi pelatihan militer di AS di Fort Leavenworth dan Fort Bragg. Sedangkan untuk para teknokrat, kebanyakan ekonom dan dari PSI, dididik di Berkeley University, Cornell, MITT, Harvard, dan sebagainya. Hal ini telah dimulai sejak tahun 1950.
Setelah Soekarno dan para pendukungnya dihabisi, dua ujung tombak AS ini—para perwira AD dan para ekonom binaan Amerika—memasuki pusat kekuasaan. Dan benar saja, di awal kekuasaannya, Jenderal Soeharto lengsung mengundang IMF dan Bank Dunia untuk merampok negeri ini. Pada Nopember 1967, Suharto juga mengirim satu tim ekonom—yang disebut Rockefeller sebagai “The Berkeley Mafia”—ke Swiss menemui para gembong korporasi multinasional yang antara lain Rockefeller sendiri. (bersambung/rd)
Add comment Agustus 26, 2008
Agenda Selamatkan Indonesia (Bag.2)
Bendera-bendera partai politik sudah berkibaran di sana-sini, tanpa mengindahkan etika dan keindahan lingkungan. Para tokoh parpol sudah mengeluarkan jurus-jurus andalannya untuk menarik perhatian khlalayak. Ada yang lewat survey pesanan, ada pula yang mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversial yang sayangnya terkesan tidak cerdas seperti batasan usia capres dan juga syarat pendidikan formal capres yang harus tinggi dan ironisnya harus dari perguruan tinggi luar negeri.
Padahal seorang pemimpin yang benar sama sekali tidak ada korelasinya dengan itu semua. Seorang pemimpin boleh berusia muda boleh berusia tua, boleh bergelar doctor luar negeri, boleh pula hanya jebolan sekolah lanjutan tingkat atas dari wilayah tertinggal. Bangsa yang tengah meluncur ke jurang kebinasaan ini sama sekali tidak membutuhkan dagelan-dagelan konyol seperti itu semua.
Seharusnya para tokoh-tokoh parpol bisa lebih arif, bisa lebih cerdas, dan lebih matang dalam melakukan pembangunan karakter bangsanya, dan tidak menunjukkan kebodohannya sendiri. Sosok Bung Karno—dengan segala kelebihan dan juga kekurangannya—patut dijadikan contoh dalam hal Character and Nation Building. Sejak awal, perjuangan bangsa ini adalah berusaha melepaskan diri, memerdekakan dirinya, dari cengkeraman Exploitation de L’homme par L’homme, eksploitasi manusia atas manusia lainnya, yang secara kasat mata beratus tahun lamanya telah dan masih dilakukan negara-negara utara terhadap negara-negara selatan.
Nusantara dengan segala kekayaannya sejak zaman penjelajahan Spanyol dan Portugis, zaman VOC, zaman Nippon, zaman “kemerdekaan”, zaman Orde Bar
Agustus 26, 2008
Agenda Selamatkan Indonesia (Bag.1)
Hanya dalam hitungan bulan, bangsa besar ini akan menyelenggarakan pemilihan umum untuk memilih wakil-wakilnya yang akan duduk di parlemen dan akan disusul dengan pemilihan umum presiden dan wakil presiden.
Jauh sebelum Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengetuk palu membolehkan setiap partai politik berkampanye, sejumlah parpol telah menebar janji manis kepada rakyat lewat media massa dan juga pertemuan langsung. Bukan itu saja, sejumlah tokoh nasional tanpa malu-malu juga telah mempromosikan dirinya sendiri di layar kaca dan mengaku sebagai pemimpin masa depan.
Salah satu bola panas menjelang ritual lima tahunan ini adalah wacana terkait usia calon presiden. Ada yang menyatakan agar kaum tua, di atas lima puluh tahun, sebaiknya tidak usah lagi mencalonkan diri jadi calon presiden di tahun 2009. Alasannya, Indonesia dengan segala kompleksitas permasalahannya memerlukan calon pemimpin yang berani, energik, dan bisa cepat serta tepat mengambil tindakan. Kelompok ini melihat orang-orang tua di negeri ini, apalagi muka-muka lama yang pernah memegang kekuasaan, tidak bisa lagi bisa diandalkan untuk membenahi Indonesia.
Sedangkan kelompok yang melihat usia calon presiden tidak perlu dibatasi memandang bahwa wacana pembatasan usia calon presiden tidak tepat dan salah paradigma. Kelompok ini memandang bahwa berani atau tidak dalam memperjuangkan kebenaran, punya nyali atau pengecut, cepat atau lamban dalam mengambil tindakan, semua itu sama sekali tidak terkait dengan usia biologis seseorang. Orang tua maupun muda, ada yang pengecut, ada yang pemberani, ada yang bernyali atau ada yang tidak, ada yang amanah dan ada pula yang khianat. Jadi wacana tersebut sesungguhnya telah salah paradigma sejak awal.
Mencermati janji-janji para tokoh parpol yang akan berlaga, juga agenda mereka (bila menang), ternyata tidak berbeda dengan janji-janji tiga parpol di masa Suharto berkuasa. Semuanya menjanjikan akan membenahi negeri ini agar bisa membawa kemakmuran, keadilan, dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Puluhan tahun rakyat ini telah dicekoki dengan janji-janji politik tersebut yang ternyata selalu saja diingkari dan dikhianati. Sama persis dengan janji yang selalu keluar dari mulut Zionis-Yahudi kepada rakyat Palestina.
Puluhan tahun rakyat Indonesia digiring oleh penguasa untuk mau datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan memilih, namun setiap penguasa baru bersinggasana, setiap kali pula rakyat lagi-lagi (dan lagi-lagi) dibohongi. Kehidupan rakyat kian hari kian susah, kian melarat, dan kian menderita. Di sana-sini anak bangsa putus asa. Sudah banyak yang gantung diri, meracuni anak-anaknya sendiri, yang menjadi gila, karena tidak tahan dengan tekanan hidup yang kian berat.
Di sisi lain, muka-muka baru yang duduk di parlemen, muka-muka baru yang kini tiap hari bersafari, muka-muka baru yang kini bermukim di Istana dan lain-lainnya, dalam tempo singkat kekayaan pribadinya berlipat-lipat. Uang rakyat dijadikan bancakan, dibagi-bagi dalam pos-pos belanja dan pengeluaran yang sama sekali tidak masuk akal dan tidak ada urgensinya.
Ada wakil rakyat yang sebelum 2004 seorang pengangguran atau kerja serabutan, rumah masih ngontrak, namun begitu duduk di lembaga negara, walau di tingkat kabupaten sekali pun, tak sampai dua tahun sudah punya rumah bagus, kendaraan pribadi, dan sederet gadget mahal yang dia sendiri tidak tahu cara menggunakannya. Kisah seperti ini ada di mana-mana.
Laporan Khusus Eramuslim kali ini akan mengangkat tema “Agenda Selamatkan Indonesia”, dengan tujuan agar umat ini tercerahkan dan sadar sesadar-sadarnya tentang kompleksitas permasalahan bangsa ini dan juga cara keluar dari krisis multi dimensi yang sekarang ini kian menggila. Pertanyaan tunggal yang hendak dijawab adalah: Mengapa negeri kaya raya ini sekarang telah berubah menjadi negeri para pengemis, negeri para koruptor, dan negeri para bandit dan bromocorah, baik yang berdasi maupun yang tidak.
Semoga kita semua bisa dengan hati yang jernih, wawasan dan pemahaman yang benar, dapat bersungguh-sungguh menentukan pilihan dalam pesta demokrasi negeri ini di tahun 2009. Memilih adalah hak setiap warga negara yang telah memenuhi segala persyaratan yang ada. Dan hak sekali-kali bukanlah kewajiban. Jadi merupakan hak kita untuk mau datang atau tidak ke TPS. Adalah hak kita untuk mencoblos di dalam kotak atau di luar kotak. Bahkan hak kita pula untuk mencoblos satu kotak atau lebih dari satu kotak. Tidak ada satu pun pihak yang bisa memaksa kita dalam hal ini.
Karena bagi seorang Muslim, yang patut ditaati tanpa reserve dan di-tsiqohi tanpa syarat hanyalah Allah SWT dan Rasul-Nya, Muhammad SAW. Selain itu, kepada alim ulama atau mereka yang mengaku sebagai pemimpin umat, maka kita hendaknya memberikan ketaatan dan ketsiqohan kita sepanjang mereka selaras dengan Allah SWT dan Rasul-Nya. Jika mereka sudah tidak lagi di atas rel yang lurus, maka tidak ada lagi ketaatan dan ketsiqohan kepadanya. Ini semua karena Islam sebagai agama tauhid sama sekali tidak mengenal kerahiban. Setiap manusia bertanggungjawab terhadap Sang Khaliq semata, bukan kepada sesama manusia. Inilah Tauhid yang benar.
Dan apa pun pilihan kita, hendaklah dilakukan dengan kesadaran penuh dan pemahaman yang benar. Karena setiap pilihan kita nantinya akan dipertanggungjawabkan di mahkamah yaumil akhir, apakah pilihan kita benar atau salah, apakah yang kita pilih bisa sungguh-sungguh amanah atau hanya memanfaatkannya untuk memperkaya dirinya sendiri. (rd/bersambung)
Add comment Agustus 26, 2008
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
1 comment Agustus 26, 2008